Beranda > Tarbiyah, Tazkiyah > Sukses: Yang Tidak Palsu

Sukses: Yang Tidak Palsu

Kita memang harus sukses di dunia. Tetapi perlu diketahui dan diingat bahwa dunia hanya satu terminal kehidupan. Ia ada di anatara alam rahim dan alam barzakh. Terminal akhir kehidupan manusia ada di alam akhirat. Di sanalah hasil kehidupan dunia dituai. Berbahagialah mereka yang dalam hidupnya bisa terhindar dari jerat-jerat dunia yang akan menghalanginya memperoleh kebahagiaan akhirat. Dan berbahagialah mereka yang bisa menjadikan sukses dunianya sebagai jembatan sukses di akhirat.

Berikut ini beberapa indikasi mereka yang terjerat tipu daya dunia:

Pertama, mengukur segala sesuatu dengan parameter syahwati. Padahal parameter rabbani adalah seperti ditegaskan Allah dalam firman-Nya: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling bertaqwa. (QS. Al-Hujurat: 13).

Dalam hal membangun rumah tangga, misalnya, banyak dari para pemuda yang lebih suka menikah dengan wanita pemilik harta, pangkat dan keturunan ningrat daripada menikah dengan wanita yang beragama. Di sisi lain, para wanit banyak juga yang menerima lamaran orang yang meminang mereka semata-mata karena melihat status, kedudukan, harta kekayaan dan fasilitas material. Padahal mengenai hal ini Rasulullah SAW telah bersabda, “Bila ada seseorang yang kamu ridhai agama dan akhlaqnya meminang putrimu, makan nikahkanlah putrimu dengannya, jika kamu tidak melakukannya maka akan terjadi fitnah di muka buni dan kerusakan yang besar. (HR. Tirmidzi).

Kedua, memberi perhatian sangat besar terhadap pengobatan fisik dan melalaikan pengobatan hati. Kita banyak melihat orang tua ketika salah seorang anaknya sakit, dengan segera membawanya ke dokter, mencarikan obat untuknya dari luar dan dalam negeri, dan memberikan obat pada waktu-waktunya dengan penuh perhatian. Padahal bila anak atau salah seorang saudara-saudaranya ada  yang melalaikan urusan ibadah dan agama, kita tidak akan mendapatkan perhatian seperti perhatian mereka terhadap penyakit fisik.

Demikianlah, fisik yang fana ini menjadi lebih penting bagi mereka daripada aqidah, ibadah dan ketatan kepada Allah yang menjadi tumpuan masa depan hakiki dan kehidupan abadi di akhirat. Ini tidak berarti kita mengabaikan pengobatan fisik di saat sakit, tapi parameter yang lebih terkait dengan unsur dunia harus diluruskan.

Ketiga, merasakan kegelisahan dan kebosanan hidup. Kedekatan pad aAllah dan orientasi akhirat akan memberi ketenangan jiwa, kedamaian hati dan kesabaran, keridhaan terhadap taqdir, perilaku yang seimbang dan sehat. Sebaliknya, menjauhkan diri dari akhirat dan kecenderungan kepada dunia melahirkan kegelisahan, kekhawatiran, kesempitan dan kebosanan hidup. Dalam kondisi itu, ketika seseorang mendapat musibah pada harta, jiwa atau lainnya, maka ia nyari tak bisa menguasai diri.

Keempat, hilangnya sikap keberanian. dunia bisa menjaerat orang hingga hilang kemuliaan dan kehormatannya. Pada saat mencari kekayaan, jabatan, pekerjaan ia tidak berani memgang kejujuran. Sikap kejantanan, ksatria dan keberanina menjadi hilang di hadapan barang dunia yang fana ini. Sungguh ambisi itu telah menundukkan leher para pembesar. Akibatnya banyak muncul sifa-sifat kemunafikan dan menjilat kepada para pemegang kendali segala urusan duniaqi yang menipu.

Maka, prinsip yang harus kita pegang teguh adalah: Kita harus mencari kebutuhan-kebutuhan kita dengan kemuliaan jiwa karena segala urusan itu berjalan sesuai taqdie. Sesungguhnya Allah telah menjadmin perolehan rizki dan menyeru kita agar berusaha mendapatkan harta dari sumber-sumber yang halal dan disertai sikap mulia seorang mukmin, karena manusia semuanya ini adalah penikmat rizki, sedang pemberi rizki itu hanya satu yaitu Allah Yang Maha Suci dan sebaik-baik pemberi rizki.

Masa hidup adalah masa memperbaiki amal, perilaku dan keadaan, agar selalu berada dalam ridha Allah dan siap menghadap-Nya kapa saja ditentukan. Kematian sudah tertulis dan akan datang tanpa peringatan. bisa jadi salah seorang di antara kita hari ini mengiringi jenazah seseorang, lalu besok justru orang lain yang mengiringi jenazahnya. Bisa jadi salah seorang di antar kita pagi hari bersama keluarga, lalu sore hari telah bersemayam di liang kuburnya.

Wallahu a’lam bisshawab

Tarbawi Edisi 12 Th  30 sept 2000 M
“Tetapi Berhati-hatilah dengan Jerat Dunia…”

Kategori:Tarbiyah, Tazkiyah
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: