Beranda > Tazkiyah > Halal Haram Daging

Halal Haram Daging

halal haram daging

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum.. wr….wb…!*bagaimana hukumnya daging selain babi dan anjing, kita makan tetapi kita belum tau penyembelihannya…?
*apa dalilnya,dri al.qur’an dan hadist…?

kondisi saya sbb:
1.kami di korea sbg TKI
2.sistem penyembelihannya menggunakan mesin.
3.mayoritas negara korea penuduknya non muslim.
4.pekerjanya dari berbagai negara,dn agamanya(pekerja) bermacam-macam.
5.warung islam ada tpi daging yang di jual tdk di sembelih sendiri.
6.adapun daging seperti:sapi,ayam,kerbau,dll kecuali daging babi,anjing dn lainnya yang haram

dengan hormat kami mohon jawaban segera dan sedetail2nya karna kmi kebingungan sebagai umat islam di korea (TKI) kmi wakil banyak orang.
wassalam…………. hormat kami

( Surya jaya)

Jawaban:

Bismillahirrahmanirrahim

Segala puja dan syukur hanya kepada Allah Swt, penguasa langit dan bumi, penguasa alam dunia dan akhirat, pembuat hukum bagi manusia, yang menetapkan sesuatu halal dan haram. shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan Nabi Muhammad Saw sebagai pembawa risalah dari Allah Swt, penjelas hukum-hukum yang ada dalam kitab-Nya, yang tidak bicara melainkan dengan tuntunan wahyu.

Jenis yang diharamkan
Islam memerintahkan kepada umatnya untuk memakan makanan yang baik-baik, dan melarang untuk memakan makanan yang kotor. Bagaimana katagori makanan itu baik dan halal? Dan bagaiaman katagori makanan itu kotor dan keji dan haram?. Dalam al-Quran, hanya beberapa jenis makanan yang diharamkan yaitu darah yang mengalir, bangkai, daging babi, dan sesembelihan yang dipersembahkan untuk selain Allah Swt, sebagaimana firman Allah Swt:
 
ياآيها الذين آمنوا كلوا من طيبات مارزقناكم واشكروا لله إن كنتم إياه تعبدون. إنما حرم عليكم الميتة والدم ولحم الخنزير وما أهل لغير الله فمن اضطر غير باغ ولا عاد فلا إثم عليه إن الله غفور رحيم (البقرة: 172-173)
Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik yang Kmai berikan kepada kamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya. Sesungguhnya Dia hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah, daging babi, dan (daging0 hwan yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah. Tetapi barang siapa terpaksa (memakannya), bukan karena menginginkannya dan tidak pula melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sungguh Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang (QS. Al-Baqarah: 172-173).

Selain dari yang diharamkan dalam ayat tersebut, ada beberapa jenis binatang yang dilarang untuk dimakan, hal itu dijelaskan dalam beberapa hadits Rasulullah Saw. Di antaranya adalah riwayat yang menjelaskan:

bahwa Rasulullah Saw melarang makan daging keledai jinak pada hari perang khaibar.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim:
نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن أكل كل ذي ناب من السباع وكل ذي مخلب من الطير
Rasulullah Saw melarang dari memakan segala binatang yang memiliki taring, dari jenis binatang buas, dan binatang yang memiliki cakar seperti bangsa burung.

Ayat di atas jelas menerangkan tentang jenis-jenis makanan, binatang yang diharamkan. Begitu juga dalam hadits di atas juga menyebutkan jenis-jenis binatang yang dilarang untuk dimakan.
 

Adapun Ibnu Abbas berpendapat bahwa tidak ada yang diharamkan selain empat jenis yang disebutkan dalam ayat al-Quran. Sedangkan larangan dalam hadits tersebut, Ibnu Abbas memahaminya sebagai larangan yang sifatnya makruh saja.
Terlepas dari perbedaan pendapat mengenai makna larangan hadits, apakah bermakna haram atau hanya makruh. yang jelas al-Quran dan hadits tersebut menerangkan tentang larangannya. Adapun yang disebutkan dalam al-Quran, tidak ada perbedaan didalamya, semua sepakat bahwa darah, bangkai, daging babi, seseutu yang disembelih untuk selain Allah adalah haram untuk dimakan, kecuali dalam keadaan terpaksa. Jadi, Selain dari yang disebutkan dalam ayat dan hadits tersebut, berarti dihalalkan.

Sembelihan yang sesuai syar’i
Binatang yang telah diharamkan, seperti babi, anjing, meskipun disembelih sesuai tuntunan syariat, tetap haram. Jadi yang dimaksud disini adalah binatang yang pada dasarnya halal di makan, dalam penyembelihannya pun ada aturan yang harus dipenuhi. Sesembelihan disebut sesui dengan tuntunan syariat jika memenuhi hal-hal berikut:

Pertama : binatang disembelih dengan alat yang tajam, yang dapat mengalirkan darah dan memotong urat leher, meskipun berupa batu atau kayu. Dari Uday bin Hatim at-Thay berkata; wahai Rasulullah, kami berburu binatang, namun tidak mendapati pisau, kecuali batu tajam dan pecahan rotan, Rasulullah Saw menjawab:
أمر الدم بما شئت واذكر اسم الله عليه
Lairkan darah dengan apapun yang kamu bisa lakukan dan sebutlah nama Allah atasnya.

Kedua : ditenggorokan atau dibawah leher. Penyembelihan paling sempurna adalah dengan yang dapat memutuskan kerongkongan (jalan makanan dan minuman di leher), yaitu dua urat yang ada di leher. Maksud di bawah leher adalah penyembelihan khusus untuk unta, yaitu dengan di tusuk bagian bawah leher. Syarat ini tidak berlaku jika penyembelihan pada bagian tersebut (leher) tidak mungkin dilksanakan, misalnya jika hewan itu terperosok ke dalam sebuah lubang pada bagian kepala sehingga leher dan bagian atas dadanya tidak mungkin dicapai. Jika demikian maka diberlakukan seperti halnya binatang buruan, cukup dilukai dengan benda tajam di bagian mana saja yang memungkinkan.

Ketiga : tidak menyebut nama selain Allah Swt. Jika ketika menyembelih dengan menyebut, atau di persembahkan kepada tuhan selain Allah, maka haram hukumnya. Sebagaimana dalam firman Allah:
وما أهل لغير الله به
Dan yang disembelih atas nama selain Allah (al-Baqarah: 173)
وما ذبح على النصب
Serta yang disembelih pada berhala-berhala (al-Maidah: 3)

Ke empat : menyebut nama Allah Swt atas sembelihan tersebut. Dalam al-Quran disebutkan:
فكلوا مما ذكر اسم الله عليه إن كنتم بآياته مؤمنين (الأنعام: 118)
Karena itu maka makanlah dari apa yang disebutkan nama Allah atasnya, jika kalian adalah orang-orang yang beriman kepada ayat-ayatNya (Al-An’am: 118)

Rasulullah Saw bersabda;
ما آنهر الدم وذكر اسم الله عليه فكلوه
Selama darah mengalir dan disebutkan nama Allah atasnya, maka makanlah. (HR. Bukhori).

Sembelihan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani).
Syarat-syarat penyembelihan di atas adalah penyembelihan seseuai dengan tuntunan syariat, dan ia bertolak belakang dengan apa yang di lakukan oleh masyarakat musyrik. Dimana mereka menyembelih untuk tuhan-tuhan mereka (berhala-berhala).
Adapun sembelihan ahlu kitab (Yahudi dan Nasrani), Islam menghalalkan bagi umat Islam untuk memakannya. Karena sebenarnya mereka adalah ahli Tauhid, tapi kemudian banyak melakukan kesalahan dalam beragama. Namun demikian Allah menghalalkan makanan mereka termasuk sembelihannya bagi umat islam, dan begitu juga makanan/sembelihan umat islam halal bagi mereka. sebagaimana dalam firman Allah Swt:
اليوم أحل لكم الطيبات وطعام الذين أوتوا الكتاب حل لكم وطعامكم حل لهم (المائدة: 5)
Pada hari ini dihalalkan bagi kamu segala hal yang baik-baik. Makanan (sembelihan) ahli kitab itu halal bagimu, dan makananmu halal bagi mereka. (QS. Al-Maidah: 5)

 

Dari ayat ini, jelas bahwa sembelihan orang-orang non muslim seperti Yahudi dan Nasrani adalah halal bagi umat islam. Dan dalam sebuah riwayat di ceritakan bahwa Rasulullah Saw pernah menghadiri undangan jamuan makan orang-orang Yahudi.
Tentu Allah lebih tahu, bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani telah melakukan penyelewengan dalam agamanya, dan itu terjadi sejak sebelum di utusnya Nabi Muhammad, dimana orang-orang Yahudi mengatakan Uzair anak Allah, sedangkan orang-orang Nasrani mengatakan Isa anak Allah. Namun demikian Allah mengatakan, bahwa sembelihan mereka halal bagi umat Islam.

Hewan yang disembelih dengan sengatan listrik dan sejenisnya.
Apakah peyembelihan mereka (Yahudi dan Nasrani) yang dihalalkan untuk umat islam itu, disyaratkan seperti penyembelihan dalam ajaran islam? Kebanyakan ulama’ mensyaratakan hal itu, sedangkan madzhab Imam Malik tidak mensyaratkan.
 

Tentang tafsir surat al-maidah ayat 5 di atas: al-Qadli Ibnu Arabi mengatakan: ini merupakan dalil yang qath’i (pasti) bahwa buruan dan makanan ahli kitab termasuk makanan baik-baik yang dibolehkan Allah. Ia halal secara mutlak.
 

Makanan (sembelihan) itu adalah makanan mereka dan makanan para pendeta serta rahib-rahib mereka, meskipun praktek itu bukan termasuk penyembelihan yang menurut kita (umat islam). Allah menghalalkan untuk umat Islam secara mutlak, sesuai dengan pandangan agama yang mereka anut. Para ulama’ mengatakan: mereka memberikan kepada umat islam wanita-wanitanya sebagai istri (dalam surat almaidah ayat lima, wanita ahli kitab yang terjaga kehormatannya halal dinikahi laki-laki muslim), halal bagi kita mencampurinya, lalu bagaimana mungkin kita tidak boleh memakan sembelihan mereka, padahal makanan lebih ringan derajatnya dibanding pernikahan, dalam hal halal dan haram?.
 

Jadi, apa yang mereka (ahli kitab) pandang sebagai penyembelihan, ia halal bagi kita umat Islam memakannya, meskipun apa yang mereka lakukan itu tidak kita anggap sebagai penyembelihan yang sah menurut agama kita. Sebaliknya, apa yang tidak mereka anggap sebagai penyembelihan menurut agama mereka, tidaklah halal bagi kita.
 

Cara pandang yang sama-sama diakui antara kita tentang penyembelihan adalah ”kesengajaan untuk menghilangkan nyawa binatang dengan niat menghalalkannya untuk dimakan”. Inilah sebagian madzhab kelompok maliki.
 

Berdasarkan perspektif ini, kita bisa memahami bahwa hukum daging impor dari negeri ahli kitab, seperti ayam dan daging sapi kalengan, yang boleh jadi penyembelihannya dengan cara sengatan listrik dan sejenisnya. Selama mereka menganggapnya sebagai sembelihan yang halal, ia halal bagi umat islam sesuai dengan umumnya makna ayat di atas (QS. Almaidah:5).
 

Di atas adalah keterangan tentang penyembelihan non muslim dari kalangan Yahudi dan Nasrani, yang al-Quran menjelaskan hukumnya secara khusus. Dimana sembelihan mereka adalah halal bagi umat islam. Adapun apakah sembelihannya harus seperti sembelihan tuntunan syariat islam, dengan di potong tenggorokannnya dengan benda tajam? Kebanyakan ulama memang mensyaratkan, namun sebagian madzhab Maliki tidak mensyaratkan, karena ayat 5 dari surat al-maidah mempunyai makna yang umum dan mutlak, sembelihan mereka (yahudi dan nasrani) adalah halal bagi umat islam, bagaimanapun bentuk sembelihannya, asalkan mereka memandang apa yang mereka lakuakan adalah sebagai sembelihan. Bagaimana dengan sembelihan non muslim dari kalangan selain ahli kitab?

Sembelihan orang Majusi
Para ulama’ berbeda pendapat tentang penyembelihan orang Majusi. Kebanyakan mereka melarangnya, karena mereka termasuk musyrik. Akan tetapi sebagian lain mangatakan bahwa ia halal, karena Nabi Saw, bersabda:
سنوا بهم سنة أهل الكتاب
Perlakukan mereka sebagaimana perlakuan terhadap ahli kitab.

 

Selain itu, beliau juga menerima Jizyah dari orang-orang Majusi Hijr. Ibnu Hazm berkata: mereka adalah ahli kitab, maka hukumnya adalah seperti hukum ahli kitab dalam semua hal tersebut.
 

Demikianlah penjelasan para ulama’ tentang masalah halal dan haram dalam masalah sembelihan. Dengan berbagai perbedaan pendapat yang ada. Yang pasti mereka telah berusaha sesuai dengan kemampuannya untuk menghasilkan suatu hukum, yang didukung dengan dalil yang mereka fahami.
 

Dari sini bisa disimpulkan, bahwa kasus yang dihadapi oleh para TKI yang tinggal di negara non muslim. Maka yang perlu di perhatikan adalah masalah jenis makanan dari segi halal dan haramnya. Yang sudah pasti haram harus ditinggalkan. Sedangkan yang halalpun juga perlu diperhatikan tentang bagaimana dan siapa yang menyembelih. Jika yang menyembelih adalah orang-orang non muslim dari kalangan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani), maka sembelihan mereka adalah halal bagi kita umat islam. Jika disembelih orang-orang non muslim dari kalangan seperti Majusi (penyembah api), sabi’, menurut sebagian ulama’ tetap dihalalkan, karena mereka seperti halnya ahli kitab, sebagaimana yang diterangkan di atas. Namun jika yang menyembelih adalah orang-orang musyrik, yang tidak percaya kepada Allah, maka sembelihan mereka tidak halal bagi orang islam.
 

Jadi, sebenarnya yang menjadi permasalah inti yang di hadapi oleh saudara para TKI di korea atau yang lainya adalah siapakah yang menyembelih binatang-binatang itu?. jika bisa diketahui siapa para pekerja penyembelih hewan itu, maka tinggal mengembalikan hukumnya sesuai penjelasan di atas. untuk mengetahui mereka para pekerja, perlu ada sedikit usaha/kesungguhan untuk mendapatkan informasi tentang hal itu. Wallahu a’lam bishawab.

http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/1/cn/28354

Kategori:Tazkiyah
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: