Ayat Cinta Hari Ini

Oktober 18, 2009 Tinggalkan komentar

“Kematian, yg kamu lari darinya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), Yg Mengetahui yg ghaib dan yg nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yg telah kamu kerjakan.”

(Qs. al jumu’ah: 8 )

Ya Allah,
kasihani kami ketika kami sampai ke tempat yg telah mereka sampai padanya, di bawah keranda dan tanah, sendiri
dan kasihani kami waktu keluarga kami memandikan kami
dan kasihani kami waktu mereka mengkafani kami
dan kasihani kami waktu mereka memikul kami di bahu mereka
dan kasihani kami waktu mereka memasukkan kami ke dalam kubur kami
kasihani kami ketika mereka menimbunkan tanah di atas jasad kami.

Dengan rahmatMu, ya Arham Ar Raahimiin.

Kategori:Hari-Hari, Tazkiyah

Menebar Salam – Spreading the Salaam

Oktober 13, 2009 Tinggalkan komentar

Video berikut tentang seorang anak yg mencoba mengumpulkan pahala untuk hari akhir dengan menebar salam ^^.

Subtitles (other time coming ^^):

Iman Seorang Mukmin

Iman seorang mukmin akan tampak di saat ia menghadapi ujian. Di saat ia totalitas dalam berdoa, tapi ia belum melihat pengaruh apapun dari doanya. Ketika, ia tetap tidak merubah keinginan dan harapannya, meski sebab-sebab putus asa semakin kuat. Itu semua dilakukan seseorang karena keyakinannya bahwa hanya Allah saja yang paling tahu apa yang lebih maslahat bagi dirinya. Ia yakin bahwa dengan ujian itu, Allah ingin melihat tingkatan kesabaran dan keimanannya. Ia yakin bahwa dengan keadaan itu, Allah menghendaki hatinya menjadi luruh dan pasrah kepada-Nya. Atau, boleh jadi melalui ujian itu, Allah menghendaki dirinya untuk lebih banyak lagi berdoa sehingga ia lebih dekat lagi dengan-Nya melalui doa-doanya.

(Shaidul Khatir, 375)

Kategori:Aqidah, Tazkiyah

Menemukan Barang Yg Hilang

Juli 24, 2007 1 komentar

Kalau Menemukan Uang, Diapakan ?

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wr. wb

jika menemukan uang yang cukup banyak..apakah uang itu kita pergunakan aja atau gimana, karena tidak tahu yang yang punya.

Iyan

Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh

Alhamdulillahi rabbil `alamin, washshalatu wassalamu `ala sayyidil mursalin, wa ba`du,
Kasus yang terjadi pada anda itu dalam bab fiqih disebut sebagai barang LUQATHAH, atau barang temuan. Dan untuk itu ada aturan hukum tersendiri yang telah ditetapkan dalam syariah. Luqathah atau barang temuan adalah harta yang hilang dari pemiliknya dan ditemukan oleh orang lain. Bila seseorang menemukan harta yang hilang dari pemiliknya, para ulama berbeda pendapat tentang tindakan / sikap yang harus dilakukan.

BILA MENEMUKAN BARANG HILANG, APA YANG HARUS DILAKUKAN ?

a. Al-Hanafiyah mengatakan disunnahkan untuk menyimpannya barang itu bilang barang itu diyakini akan aman bila ditangan anda untuk nantinya diserahkan kepada pemiliknya. Tapi bila tidak akan aman, maka sebaiknya tidak diambil. Sedangkan bila mengambilnya dengan niat untuk dimiliki sendiri, maka hukumnya haram.

b. Al-Malikiyah mengatakan bila seseorang tahu bahwa dirinya suka berkhianat atas hata oang yang ada padanya, maka haram baginya untuk menyimpannya.

c. Asy-Syafi`iyyah berkata bahwa bila dirinya adalah orang yang amanah, maka disunnahkan untuk menyimpannya untuk dikembalikan kepada pemiliknya. Karena dengan menyimpannya berarti ikut menjaganya dari kehilangan.

d. Sedangkan Imam Ahmad bin Hanbal ra. mengatakan bahwa yang utama adalah meninggalkan harta itu dan tidak menyimpannya.

KEWAJIBAN ORANG YANG MENEMUKAN BARANG HILANG

Islam mewajibkan bagi orang yang menemukan barang hilang untuk mengumumkannya kepada khalayak ramai. Dan masa penngumuman itu berlaku selama satu tahun. Hal itu berdasarkan perintah Rasulullah SAW ,?Umumkanlah selama masa waktu setahun?. Pengumuman itu di masa Rasulullah SAW dilakukan di pintu-pintu masjid dan tempat-tempat berkumpulnya orang-orang seperti pasar, tempat resepsi dan sebagainya.

BILA TIDAK ADA YANG MENGAKUI

Bila telah lewat masa waktu setahun tapi tidak ada yang datang mengakuinya, maka para ulama berbeda pendapat. Sebagian mengatakan bolehlah bagi penemu untuk memiliki harta itu bila memang telah berusaha mengumumkan barang temua itu selama setahun lamanya dan tidak ada seorangpun yang mengakuinya. Hal ini berlaku umum, baik penemu itu miskin ataupun kaya. Pendapat ini didukung oleh Imam Malik ra., Imam Asy-Syafi`i ra. dan Imam Ahmad bin Hanbal ra.

Sedangkan Imam Abu Hanifah ra. mengatakan hanya boleh dilakukan bila penemunya orang miskin dan sangat membutuhkan saja. Tapi bila suatu saat pemiliknya datang dan telah cocok bukti-bukti kepemilikannya, maka barang itu harus dikembalikan kepada pemilik aslinya. Bila harta temuan itu telah habis, maka dia wajib menggantinya.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/4/cn/11991

Kategori:Aqidah

‘Hadiah’ untuk org Mati

Pertanyaan:

Ass.wr wb,,

tidak mengerti mengenai istilah “hadiah”, ortu saya selalu menganjurkan anak2nya melakukan ibadah hadiah untuk yg sudah mati, misal : mengaji qur`an dihadiahkan, makan juga ada istilah dihadiahkan untuk yg sudah mati,

bagaimana sebetulnya dalil atau hukumnya ?

terima kasih

aladin

Jawaban:

Assalamu alaikum wr.wb.
Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada kita semua.
Saudara Aladin, kalau yang dimaksudkan dengan hadiah di sini adalah menghadiahkan pahala amal ibadah yang kita lakukan untuk seorang muslim yang sudah meninggal dunia, maka hal itu menurut para ulama diperbolehkan. Baik amal ibadah tersebut berupa ibadah harta maupun ibadah fisik. Di antara dalilnya adalah:
– Adanya perintah atau anjuran untuk mendoakan dan memintakan ampunan untuk mayit baik dalam Alquran maupun sunah.
– Suatu ketika ada Sa’ad ibn Ubadah bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah saw, ibuku telah meninggal dunia saat saya sedang pergi. Apakah jika saya bersedekah untuknya hal itu bermanfaat baginya?” “Ya,” jawab beliau. (HR Bukhori).
– Nabi saw. bersabda, “Siapa yang meninggal dalam kondisi memiliki hutang puasa, keluarganya berpuasa untuknya.” (HR Bukhori dan Muslim).
Jadi, menghadiahkan pahala amal ibadah untuk orang mati boleh. Namun, yang perlu diperhatikan di sini bahwa yang diperbolehkan adalah menghadiahkan pahala; bukan menggantikan pahala. Sama halnya seperti seorang buruh yang pekerjaannya tidak boleh digantikan oleh orang lain; tetapi upahnya bisa diberikan kepada orang lain jika ia mau.

Adapun menghadiahkan makanan untuk orang mati (sesajen) sama sekali tidak diajarkan; bahkan sangat dilarang.

Wallahu a’lam bish-shawab.
Wassalamu alaikum wr.wb.
http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/2/cn/23213

Kategori:Aqidah

Doa untuk orang mati

Juli 24, 2007 1 komentar

Pertanyaan:

apakah akan sampai ,pahala bacaan alqur’an untuk orang yang sudah meninggal ?
terimakasih atas jawabannya .

M.Rifai

Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh

Alhamdulillahi rabbil `alamin, washshalatu wassalamu `ala sayyidil mursalin, wa ba`du,

Masalah ?pengiriman pahala? kepada orang yang telah wafat, kami sebenarnya sudha sering kali membahasnya. Kalau Anda sedikit usaha, pasti akan menemukan jawabnya di dalam database kami. Namun tidak ada salahnya kami memberikan gambaran untuk Anda saat ini.

Khilaf Di Antara Para Ulama

Kita menerima kenyataan bahwa para ulama memang terbagi-bagi dalam memahami masalah ini. Ada diantara mereka yang berpendapat bahwa orang yang sudah wafat itu sama sekali tidak bisa menerima pahala dari orang yang masih hidup. Sebagian lagi mengatakan bisa menerima, namun hanya jenis pahala tertentu saja yang bisa. Dan yang terakhir mengatakan bahwa semua jenis pahala bisa disampaikan kepada orang yang sudah mati.

Lebih rincinya, berikut ini kami uraikan satu persatu pendapat mereka :

1. Pendapat Pertama : Mutlak Tidak Sampai

Pendapat ini berangkat dari pengertian beberapa ayat Al-Quran Al-Kariem yang seklias memang menyebutkan bahwa tiap orang akan menerima sesuai dengan yang pernah dikerjakannya.

Allah SWT telah berfirman di dalam Al-Quran Al-Kariem :
Ia mendapat pahala (dari kebaikan) yang diusahakannya dan mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya?. (QS. Al-Baqarah : 286)

2. Pendapat Kedua : Hanya Pahala Ibadah Maliyah Saja Yang Bisa Sampai

Mereka membedakan antara ibadah badaniyah dan ibadah maliyah. Pahala ibadah maliyah seperti shadaqah dan hajji sampai kepada mayyit, sedangkan ibadah badaniyah seperti shalat dan bacaan Alqur?an tidak sampai.

Pendapat ini merupakan pendapat yang masyhur dari Madzhab Syafi?i dan pendapat Madzhab Malik. Mereka berpendapat bahwa ibadah badaniyah adalah termasuk kategori ibadah yang tidak bisa digantikan orang lain, sebagaimana sewaktu hidup seseorang tidak boleh menyertakan ibadah tersebut untuk menggantikan orang lain.

Dalil yang mereka gunakan adalah sabda Rasul SAW:
Seseorang tidak boleh melakukan shalat untuk menggantikan orang lain, dan seseorang tidak boleh melakukan shaum untuk menggantikan orang lain, tetapi ia memberikan makanan untuk satu hari sebanyak satu mud gandum? (HR An-Nasa?i).

3. Pendapat Ketiga : Semua Jenis Pahala Bisa Sampai

• Hadits Populer

Dalil yang paling populer untuk masalah ini adalah hadits yang sudah sangat kita kenal bersama, yaitu :
Rasulullah SAW bersabda,?Bila anak Adam wafat, maka amalnya terputus kecuali tiga hal : [1] Shadaqah jariah, [2] Ilmu yang bermanfaat dan []3 Anak shalih yang mendoakannya. (HR. Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Nasa?I dan Ahmad )

• Terkabulnya Doa Selain Dari Anak

Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk berdoa dan mendoakan mayat yang telah wafat. Dan tidak harus untuk yang masih ada hubungan saudara dan darah. Melainkan kepada semuanya, yang dikenal maupun yang tidak dikenal. Logikanya, bila Allah SWT sendiri memerintahkan untuk mendoakan mereka, bagaimana mungkin dikatakan bahwa doa itu tidak ada gunanya.

Bahkan di dalam Al-Quran Al-Kariem sendiri, ada teks doa itu dan memang telah dibaca oleh umat ini.
Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdo?a😕 Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami? (QS Al Hasyr: 10)

Juga ada hadits Rasulullah SAW yang menceritakan doa kepada mayyit :
Dari Ustman bin ?Affan ra berkata:? Adalah Nabi SAW apabila selesai menguburkan mayyit beliau berdiri lalu bersabda:? mohonkan ampun untuk saudaramu dan mintalah keteguhan hati untuknya, karena sekarang dia sedang ditanya? (HR Abu Dawud)

Kalau kita diminta untuk memohon ampun bagi orang yang sudah wafat, logiskah bila masih akan dikatakan bahwa tidak ada pengaruh amal orang hidup untuk orang yang telah wafat ?
• Disyariatkannya Shalat Jenazah

Kira-kira, apa sih gunanya shalat jenazah ? Dan adakah bedanya bila jenazah dishalatkan dengan tidak dishalatkan ?

Tentu saja shalat jenazah itu disyariatkan karena jenazah yang dishalatkan itu memang akan mendapatkan pahala dan keringanan siksa di dalam kuburnya. Paling tidak shalat itu bukan hanya berpengaruh kepada amal yang melakukannya, melainkan juga kepada jenazah yang dishalatkan itu sendiri.

Apalagi bila dilihat lafaz shalat jenazah yang intinya tidak lain adalah doa untuk mayit. Artinya, mayit itu didoakan agar dia mendapatkan segala yang dibutuhkannya di alam quburnya.
Dari Auf bin Malik ia berkata: Saya telah mendengar Rasulullah SAW ? setelah selesai shalat jenazah-bersabda:? Ya Allah ampunilah dosanya, sayangilah dia, maafkanlah dia, sehatkanlah dia, muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah kuburannya, mandikanlah dia dengan air es dan air embun, bersihkanlah dari segala kesalahan sebagaimana kain putih bersih dari kotoran, gantikanlah untuknya tempat tinggal yang lebih baik dari tempat tinggalnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya, pasangan yang lebih baik dari pasangannya dan peliharalah dia dari siksa kubur dan siksa neraka? (HR Muslim).

Kalau doa ini disyariatkan, artinya memang ada perintah untuk itu dna tentu saja Allah SWT tidak akan memerintahkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi.
• Sampainya Pahala Sedekah Untuk Orang Mati

Rasulullah SAW pun memerintahkan shahabat untuk bersedekah yang pahalanya untuk orang yang telah wafat. Haditys berikut ini menjelaskan bagaimana hal itu.
Dari Abdullah bin Abbas ra bahwa Saad bin Ubadah ibunya meninggal dunia ketika ia tidak ada ditempat, lalu ia datang kepada Nabi SAW unntuk bertanya:? Wahai Rasulullah SAW sesungguhnya ibuku telah meninggal sedang saya tidak ada di tempat, apakah jika saya bersedekah untuknya bermanfaat baginya ? Rasul SAW menjawab: Ya, Saad berkata:? saksikanlah bahwa kebunku yang banyak buahnya aku sedekahkan untuknya? (HR Bukhari).

• Dosa Hutang Yang Terhapus

Hadits Abu Qotadah menjelaskan bahwa seseorang mati dalam keadaan berhutang. Tentu saja di kubur dia mendapat masalah. Lalu ketika keluarganya membayarkan hutangnya sebanyak dua dinar, maka nabi SAW bersabda:
Sekarang engkau telah mendinginkan kulitnya? (HR Ahmad)

• Pahala itu adalah hak orang yang beramal. Jika ia menghadiahkan kepada saudaranya yang muslim, maka hal itu tidak ada halangan sebagaimana tidak dilarang menghadiahkan harta untuk orang lain di waktu hidupnya dan membebaskan utang setelah wafatnya.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/1/cn/24502

Kategori:Aqidah

Halal Haram Daging

halal haram daging

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum.. wr….wb…!*bagaimana hukumnya daging selain babi dan anjing, kita makan tetapi kita belum tau penyembelihannya…?
*apa dalilnya,dri al.qur’an dan hadist…?

kondisi saya sbb:
1.kami di korea sbg TKI
2.sistem penyembelihannya menggunakan mesin.
3.mayoritas negara korea penuduknya non muslim.
4.pekerjanya dari berbagai negara,dn agamanya(pekerja) bermacam-macam.
5.warung islam ada tpi daging yang di jual tdk di sembelih sendiri.
6.adapun daging seperti:sapi,ayam,kerbau,dll kecuali daging babi,anjing dn lainnya yang haram

dengan hormat kami mohon jawaban segera dan sedetail2nya karna kmi kebingungan sebagai umat islam di korea (TKI) kmi wakil banyak orang.
wassalam…………. hormat kami

( Surya jaya)

Jawaban:

Bismillahirrahmanirrahim

Segala puja dan syukur hanya kepada Allah Swt, penguasa langit dan bumi, penguasa alam dunia dan akhirat, pembuat hukum bagi manusia, yang menetapkan sesuatu halal dan haram. shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan Nabi Muhammad Saw sebagai pembawa risalah dari Allah Swt, penjelas hukum-hukum yang ada dalam kitab-Nya, yang tidak bicara melainkan dengan tuntunan wahyu.

Jenis yang diharamkan
Islam memerintahkan kepada umatnya untuk memakan makanan yang baik-baik, dan melarang untuk memakan makanan yang kotor. Bagaimana katagori makanan itu baik dan halal? Dan bagaiaman katagori makanan itu kotor dan keji dan haram?. Dalam al-Quran, hanya beberapa jenis makanan yang diharamkan yaitu darah yang mengalir, bangkai, daging babi, dan sesembelihan yang dipersembahkan untuk selain Allah Swt, sebagaimana firman Allah Swt:
 
ياآيها الذين آمنوا كلوا من طيبات مارزقناكم واشكروا لله إن كنتم إياه تعبدون. إنما حرم عليكم الميتة والدم ولحم الخنزير وما أهل لغير الله فمن اضطر غير باغ ولا عاد فلا إثم عليه إن الله غفور رحيم (البقرة: 172-173)
Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik yang Kmai berikan kepada kamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya. Sesungguhnya Dia hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah, daging babi, dan (daging0 hwan yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah. Tetapi barang siapa terpaksa (memakannya), bukan karena menginginkannya dan tidak pula melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sungguh Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang (QS. Al-Baqarah: 172-173).

Selain dari yang diharamkan dalam ayat tersebut, ada beberapa jenis binatang yang dilarang untuk dimakan, hal itu dijelaskan dalam beberapa hadits Rasulullah Saw. Di antaranya adalah riwayat yang menjelaskan:

bahwa Rasulullah Saw melarang makan daging keledai jinak pada hari perang khaibar.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim:
نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن أكل كل ذي ناب من السباع وكل ذي مخلب من الطير
Rasulullah Saw melarang dari memakan segala binatang yang memiliki taring, dari jenis binatang buas, dan binatang yang memiliki cakar seperti bangsa burung.

Ayat di atas jelas menerangkan tentang jenis-jenis makanan, binatang yang diharamkan. Begitu juga dalam hadits di atas juga menyebutkan jenis-jenis binatang yang dilarang untuk dimakan.
 

Adapun Ibnu Abbas berpendapat bahwa tidak ada yang diharamkan selain empat jenis yang disebutkan dalam ayat al-Quran. Sedangkan larangan dalam hadits tersebut, Ibnu Abbas memahaminya sebagai larangan yang sifatnya makruh saja.
Terlepas dari perbedaan pendapat mengenai makna larangan hadits, apakah bermakna haram atau hanya makruh. yang jelas al-Quran dan hadits tersebut menerangkan tentang larangannya. Adapun yang disebutkan dalam al-Quran, tidak ada perbedaan didalamya, semua sepakat bahwa darah, bangkai, daging babi, seseutu yang disembelih untuk selain Allah adalah haram untuk dimakan, kecuali dalam keadaan terpaksa. Jadi, Selain dari yang disebutkan dalam ayat dan hadits tersebut, berarti dihalalkan.

Sembelihan yang sesuai syar’i
Binatang yang telah diharamkan, seperti babi, anjing, meskipun disembelih sesuai tuntunan syariat, tetap haram. Jadi yang dimaksud disini adalah binatang yang pada dasarnya halal di makan, dalam penyembelihannya pun ada aturan yang harus dipenuhi. Sesembelihan disebut sesui dengan tuntunan syariat jika memenuhi hal-hal berikut:

Pertama : binatang disembelih dengan alat yang tajam, yang dapat mengalirkan darah dan memotong urat leher, meskipun berupa batu atau kayu. Dari Uday bin Hatim at-Thay berkata; wahai Rasulullah, kami berburu binatang, namun tidak mendapati pisau, kecuali batu tajam dan pecahan rotan, Rasulullah Saw menjawab:
أمر الدم بما شئت واذكر اسم الله عليه
Lairkan darah dengan apapun yang kamu bisa lakukan dan sebutlah nama Allah atasnya.

Kedua : ditenggorokan atau dibawah leher. Penyembelihan paling sempurna adalah dengan yang dapat memutuskan kerongkongan (jalan makanan dan minuman di leher), yaitu dua urat yang ada di leher. Maksud di bawah leher adalah penyembelihan khusus untuk unta, yaitu dengan di tusuk bagian bawah leher. Syarat ini tidak berlaku jika penyembelihan pada bagian tersebut (leher) tidak mungkin dilksanakan, misalnya jika hewan itu terperosok ke dalam sebuah lubang pada bagian kepala sehingga leher dan bagian atas dadanya tidak mungkin dicapai. Jika demikian maka diberlakukan seperti halnya binatang buruan, cukup dilukai dengan benda tajam di bagian mana saja yang memungkinkan.

Ketiga : tidak menyebut nama selain Allah Swt. Jika ketika menyembelih dengan menyebut, atau di persembahkan kepada tuhan selain Allah, maka haram hukumnya. Sebagaimana dalam firman Allah:
وما أهل لغير الله به
Dan yang disembelih atas nama selain Allah (al-Baqarah: 173)
وما ذبح على النصب
Serta yang disembelih pada berhala-berhala (al-Maidah: 3)

Ke empat : menyebut nama Allah Swt atas sembelihan tersebut. Dalam al-Quran disebutkan:
فكلوا مما ذكر اسم الله عليه إن كنتم بآياته مؤمنين (الأنعام: 118)
Karena itu maka makanlah dari apa yang disebutkan nama Allah atasnya, jika kalian adalah orang-orang yang beriman kepada ayat-ayatNya (Al-An’am: 118)

Rasulullah Saw bersabda;
ما آنهر الدم وذكر اسم الله عليه فكلوه
Selama darah mengalir dan disebutkan nama Allah atasnya, maka makanlah. (HR. Bukhori).

Sembelihan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani).
Syarat-syarat penyembelihan di atas adalah penyembelihan seseuai dengan tuntunan syariat, dan ia bertolak belakang dengan apa yang di lakukan oleh masyarakat musyrik. Dimana mereka menyembelih untuk tuhan-tuhan mereka (berhala-berhala).
Adapun sembelihan ahlu kitab (Yahudi dan Nasrani), Islam menghalalkan bagi umat Islam untuk memakannya. Karena sebenarnya mereka adalah ahli Tauhid, tapi kemudian banyak melakukan kesalahan dalam beragama. Namun demikian Allah menghalalkan makanan mereka termasuk sembelihannya bagi umat islam, dan begitu juga makanan/sembelihan umat islam halal bagi mereka. sebagaimana dalam firman Allah Swt:
اليوم أحل لكم الطيبات وطعام الذين أوتوا الكتاب حل لكم وطعامكم حل لهم (المائدة: 5)
Pada hari ini dihalalkan bagi kamu segala hal yang baik-baik. Makanan (sembelihan) ahli kitab itu halal bagimu, dan makananmu halal bagi mereka. (QS. Al-Maidah: 5)

 

Dari ayat ini, jelas bahwa sembelihan orang-orang non muslim seperti Yahudi dan Nasrani adalah halal bagi umat islam. Dan dalam sebuah riwayat di ceritakan bahwa Rasulullah Saw pernah menghadiri undangan jamuan makan orang-orang Yahudi.
Tentu Allah lebih tahu, bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani telah melakukan penyelewengan dalam agamanya, dan itu terjadi sejak sebelum di utusnya Nabi Muhammad, dimana orang-orang Yahudi mengatakan Uzair anak Allah, sedangkan orang-orang Nasrani mengatakan Isa anak Allah. Namun demikian Allah mengatakan, bahwa sembelihan mereka halal bagi umat Islam.

Hewan yang disembelih dengan sengatan listrik dan sejenisnya.
Apakah peyembelihan mereka (Yahudi dan Nasrani) yang dihalalkan untuk umat islam itu, disyaratkan seperti penyembelihan dalam ajaran islam? Kebanyakan ulama’ mensyaratakan hal itu, sedangkan madzhab Imam Malik tidak mensyaratkan.
 

Tentang tafsir surat al-maidah ayat 5 di atas: al-Qadli Ibnu Arabi mengatakan: ini merupakan dalil yang qath’i (pasti) bahwa buruan dan makanan ahli kitab termasuk makanan baik-baik yang dibolehkan Allah. Ia halal secara mutlak.
 

Makanan (sembelihan) itu adalah makanan mereka dan makanan para pendeta serta rahib-rahib mereka, meskipun praktek itu bukan termasuk penyembelihan yang menurut kita (umat islam). Allah menghalalkan untuk umat Islam secara mutlak, sesuai dengan pandangan agama yang mereka anut. Para ulama’ mengatakan: mereka memberikan kepada umat islam wanita-wanitanya sebagai istri (dalam surat almaidah ayat lima, wanita ahli kitab yang terjaga kehormatannya halal dinikahi laki-laki muslim), halal bagi kita mencampurinya, lalu bagaimana mungkin kita tidak boleh memakan sembelihan mereka, padahal makanan lebih ringan derajatnya dibanding pernikahan, dalam hal halal dan haram?.
 

Jadi, apa yang mereka (ahli kitab) pandang sebagai penyembelihan, ia halal bagi kita umat Islam memakannya, meskipun apa yang mereka lakukan itu tidak kita anggap sebagai penyembelihan yang sah menurut agama kita. Sebaliknya, apa yang tidak mereka anggap sebagai penyembelihan menurut agama mereka, tidaklah halal bagi kita.
 

Cara pandang yang sama-sama diakui antara kita tentang penyembelihan adalah ”kesengajaan untuk menghilangkan nyawa binatang dengan niat menghalalkannya untuk dimakan”. Inilah sebagian madzhab kelompok maliki.
 

Berdasarkan perspektif ini, kita bisa memahami bahwa hukum daging impor dari negeri ahli kitab, seperti ayam dan daging sapi kalengan, yang boleh jadi penyembelihannya dengan cara sengatan listrik dan sejenisnya. Selama mereka menganggapnya sebagai sembelihan yang halal, ia halal bagi umat islam sesuai dengan umumnya makna ayat di atas (QS. Almaidah:5).
 

Di atas adalah keterangan tentang penyembelihan non muslim dari kalangan Yahudi dan Nasrani, yang al-Quran menjelaskan hukumnya secara khusus. Dimana sembelihan mereka adalah halal bagi umat islam. Adapun apakah sembelihannya harus seperti sembelihan tuntunan syariat islam, dengan di potong tenggorokannnya dengan benda tajam? Kebanyakan ulama memang mensyaratkan, namun sebagian madzhab Maliki tidak mensyaratkan, karena ayat 5 dari surat al-maidah mempunyai makna yang umum dan mutlak, sembelihan mereka (yahudi dan nasrani) adalah halal bagi umat islam, bagaimanapun bentuk sembelihannya, asalkan mereka memandang apa yang mereka lakuakan adalah sebagai sembelihan. Bagaimana dengan sembelihan non muslim dari kalangan selain ahli kitab?

Sembelihan orang Majusi
Para ulama’ berbeda pendapat tentang penyembelihan orang Majusi. Kebanyakan mereka melarangnya, karena mereka termasuk musyrik. Akan tetapi sebagian lain mangatakan bahwa ia halal, karena Nabi Saw, bersabda:
سنوا بهم سنة أهل الكتاب
Perlakukan mereka sebagaimana perlakuan terhadap ahli kitab.

 

Selain itu, beliau juga menerima Jizyah dari orang-orang Majusi Hijr. Ibnu Hazm berkata: mereka adalah ahli kitab, maka hukumnya adalah seperti hukum ahli kitab dalam semua hal tersebut.
 

Demikianlah penjelasan para ulama’ tentang masalah halal dan haram dalam masalah sembelihan. Dengan berbagai perbedaan pendapat yang ada. Yang pasti mereka telah berusaha sesuai dengan kemampuannya untuk menghasilkan suatu hukum, yang didukung dengan dalil yang mereka fahami.
 

Dari sini bisa disimpulkan, bahwa kasus yang dihadapi oleh para TKI yang tinggal di negara non muslim. Maka yang perlu di perhatikan adalah masalah jenis makanan dari segi halal dan haramnya. Yang sudah pasti haram harus ditinggalkan. Sedangkan yang halalpun juga perlu diperhatikan tentang bagaimana dan siapa yang menyembelih. Jika yang menyembelih adalah orang-orang non muslim dari kalangan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani), maka sembelihan mereka adalah halal bagi kita umat islam. Jika disembelih orang-orang non muslim dari kalangan seperti Majusi (penyembah api), sabi’, menurut sebagian ulama’ tetap dihalalkan, karena mereka seperti halnya ahli kitab, sebagaimana yang diterangkan di atas. Namun jika yang menyembelih adalah orang-orang musyrik, yang tidak percaya kepada Allah, maka sembelihan mereka tidak halal bagi orang islam.
 

Jadi, sebenarnya yang menjadi permasalah inti yang di hadapi oleh saudara para TKI di korea atau yang lainya adalah siapakah yang menyembelih binatang-binatang itu?. jika bisa diketahui siapa para pekerja penyembelih hewan itu, maka tinggal mengembalikan hukumnya sesuai penjelasan di atas. untuk mengetahui mereka para pekerja, perlu ada sedikit usaha/kesungguhan untuk mendapatkan informasi tentang hal itu. Wallahu a’lam bishawab.

http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/1/cn/28354

Kategori:Tazkiyah